Wood Tumblr Themes
#Tempatku Bermuara; kamu

sejenak yang ada di kamu tumpah ke tubuhku

sebasah basahnya hujan,tiada yang lebih basah dari kecupmu

geletar perasaan aneh menggeliat memenuhi rongga  perasaan

berlomba-lomba menekan tombol rindu di dadaku

malam ini,senyummu seakan memiuh rasa yang telah lama karam

mengingatkan kembali akan muara yang lama tenggelam

kamu; tulisan takdir yang lama menasbihkan rasa

sejenak kuraba tembok jaman,brankas kenangan kukeluarkan

lebih asing dari yang terasing

cacat oleh kata-kata yang tak kukenali empunya

dan sesaat aku tau,inilah alasan hati membungkus dirinya sendiri

membentuk tali pati yang kebal akan gunting ucapanmu

namun disini,rinduku seperti diingatkan lagi darimana ia asalnya

bukankah dari bibirmu yang semanis biang gula?

yang dari sanalah aku belajar menabahkan hati akan pahitnya dikhianati

belajar merelakan yang aku miliki

tapi bersamaan juga kunikmati cinta semanis rengganis

perlahan aku menerka,dimana letak bahagia sesungguhnya

bersamamu? atau lepas darimu?

kulempar mata dadu,berjudi dengan nasibku sendiri

bertahun-tahun kulempar mata dadu,hasilnya tetap sama

melepasmu; muskil.

yang nyata,yang tiada

bau tanah sehabis hujan kembali menyergap indra penciumanku di minggu kedua bulan september ini,aku menyesapnya dalam2. dan seperi biasa,bau tanah sehabis hujan seakan mampu menyihirku untuk membuka kembali memori2 lama yang sudah tersimpan rapi dalam suau brankas di bagian otakku. terutama memori tentang kamu,seakan membludak keluar setelah dikurung sekian lama.

hari ini,aku sengaja mencuri waku disore hari untuk “mereview” semua tentang….yahh…sebut saja tentang kita. aku sengaja membawa kotak “perhiasanku”. bukan kotak perhiasan dalam arti sebenarnya,melainkan sebuah kotak yang kugunakan untuk menyimpan semua benda yang ada hubungannya dengan kamu. sengaja juga kubawa secangkir kopi,untuk jaga2 seandainya aku lepas kendali [lagi]. yah..kamu tau sendiri kan,cuma kopi yang bisa membuatku “waras”.

yang terlihat hanya tumpukan kertas yang menggunung begitu kubuka kotak itu. kuambil kertas warna ungu tua yang berada di puncak tumpukan itu. .kalau kamu masih ingat,itu adalah kertas ‘iseng’ yang kamu berikan kepadaku saat kita sama2 bosan menunggu jam kuliah usai. kertas itu isinya gambar. gambar hati acak2an yang disampingnya ada tulisan langit dan bulan,nama sayang kita. lagi2 aku tersenyum sendiri membacanya :)

kuletakkan kertas itu disampingku sembari membuka satu demi satu kertas yang lain. lembar demi lembar sama dengan tawa dan tangis yang datang bergantian. dan tiba2 mataku terpaku pada sebuah foto yang kuambil di rumah sakit. ya,foto yang kuambil di kamar 315 yang tiada lain adalah kamarmu. aku dan kamu tersenyum riang dengan selang infus dan penutup kepala sebagai aksesorimu. maaf sayang,pada saat itu aku menganggapnya lucu dan belakangan kutau bahwa kamu menyembunyikan sakit yang teramat sangat dibalik penutup kepala itu.

yang terlihat selanjutnya hanyalah foto2 berlatar belakang rumah sakit dengan kamu,aku,ayah,ibumu,kadang juga dokter sebagai modelnya. tak ada yang berubah,senyummu,cahaya di matamu,semua tetap sama, kecuali badanmu yang semakin kurus dan rambutmu yang semakin menipis. andai kamu tau betapa kangennya aku bisa membelai rambutmu lagi seperti dulu. aku kangen kamu sayang. kangeeeeeeeeen sekali. kangen yang melebihi kangen2 sebelumnya.

hampir saja aku mendial nomormu karena kangen yang tak tertahan ini ketika tiba2 kulihat sebuah foto bergambar batu nisan dengan namamu terukir di permukaannya. ardian langit ramadhan. seketika saja kenyataan menamparku [lagi]. lagi2 aku lupa bahwa kamu telah tiada,sayang. buru2 kureguk kopiku,kuntandaskan sebelum aku hilang kendali.

its been 7 years since you’re gone. 7 kali aku masih menunggumu di illy’s cafe tepat pukul 4 sore. berharap kamu datang dan membawakanku hadiah annyversary. 7 kali juga aku meminta izin pada ibumu tepat pukul 00.00 setiap tanggal 8 september untuk memberikan suprise malam2 dirumahmu,seperti yang biasa kulakukan dulu setiap kamu berulang tahun. meski aku tau kamu tak akan pernah datang,kamu tak akan pernah bangun pun untuk sekedar memelukku atau mengacak rambutmu, tapi aku tetap melakukannya.

sayang,jika kamu rindu aku, tunggu aku ditempat biasa ya? :)

*inspired by the man who can be moved - the script*

Pengkhianat bernama jarak

aku tak tau apa yang salah dari jarak,sejauh yang aku tau,jarak hanya sebuah bilangan yang punya arti jika disandingkan dengan suatu pelajaran,fisika.

aku tak tau jika jarak seperti belati,yang bersembunyi dibalik semua kata indah yang terlontar tadi bibirmu. bersembunyi dibalik euforia yang tercipta dari hati yang membuncah karena terlalu bahagia. dia yang ternyata mengintai disetiap malam yang kuakhiri dengan senyum. dia yang kini menusukku inchi demi inchi tubuh dan hatiku yang semua telah kuserahkan padanya.

dia mengkhianatiku,melirihkan setiap nyanyian yang dulu terdengar nyaring di telingamu. dia yang merakit sayap untukku terbang,tapi dia juga yang menembakkan peluru untuk menjatuhkanku.

terlelap tapi tak terlelap. semu yang kian mengabur. seperti berteriak di ruang hampa. sia-sia.

sebagai kita, kebersamaan itu lebih dari bahagia, bagiku. kuyakin begitu juga kamu.

aku ini geletak yang terkapar di tengah jalan bernama harapan.

aku ini petasan yang meledak2 girang lalu mati seketika karena dinginnya kenyataan

aku ini lilin kecil yang meredup karena gelap yang mengkhianatinya

aku ini,jiwa yang tak siap oleh sandungan batu bernama jarak.

setauku,jarak yang membuatmu meneguhkan hati untuk tidak melanjutkan semua rasa ini.

apakah ini benar2 definisi dari cinta tidak harus memiliki? bahkan ketika cintanya sudah di genggamanmu,tapi karena suatu hal kau harus melepaskannya.

bagai mengenggam gelas pecah,ingin kulepaskan karena aku sudah menggelepar  kehabisan darah,tapi jika kulepaskan,banyak daging yang ikut terkoyak keluar dan membuatku menjerit memilukan.

mungkinkah kembali seperti dulu lagi apa yang kau dan aku yakini sebagai kita setelah jarak dan rasa bisu menghitam-pekatkan kebersamaan?

berbagai kata “seharusnya” melintas pikiranku,seharusnya kamu disini,seharusnya aku disana,seharusnya jarak tak menjadi rintangan,lalu kemudian dalam diam aku menemukan,tenyata kata “seharusnya” tak berlaku untuk kita. kini,aku tau kau yang memilih bergeser dari garisku,dan membungkam hilang kenangan itu.

seperti apa yang kau katakan dulu “kenangan itu manis untuk dijalani,tapi getir untuk diingat”

Semesta berkonspirasi

seolah tau,angin tiba-tiba berubah menjadi lembut

seperti yang pernah kau katakan dulu

jika angin melembut,aku datang dengan kuda putih

iya?

bulan seperti menyoraki

tertawa girang mengiringimu datang menungggangi kuda putih

apa yang perlu disoraki? apa yang perlu dilembutkan dari sepasang bibir yang bahkan sudah lupa caranya tersenyum?

aku lebih akrab dengan wine daripada dengan bulan atau angin yang terkadang menyimpan belati dibalik senyumnya yang menawan

kita ini sepasang tangan yang dekat,tapi tak bisa saling mendekap.

hanya duduk terbelenggu senyap yang menyayat tanpa ada usaha untuk lepas dari jerat

aku limbung,berusaha mementahkan kenyataan darimu yang sangat mempesona tapi tak bisa aku kecup bibirnya

sialnya aku kadang percaya pada konspirasi alam yang piawai memperdayai

hingga aku kembali tenggelam dalam puisi,tempat dimana aku dapat mementahkan segala kecewa yang teramat mengisi

Untuk kamu yang mendunia

memejamkan mata sejenak,menguliti rindu

merasakan setiap rajamnya yang semakin ngilu

aku menikmati setiap rasa sakit yang ditimbulkannya.

sakit tapi nyaman. seperti memeluk dan menusuk bersamaan

apalagi denganmu,rindu seperti seperti lebih berbumbu

memeluk,mengecup,menusuk,menghunus sekaligus

menghunus hingga aku terkapar penuh luka tak kasat mata

menghisap segala daya untuk sekedar kembali bernapas

menguras habis segala yang ada di dalam kelenjar air mata

tapi jemarinya,seakan mengusap wajahku penuh cinta

meyakinkan aku jika tak ada sakit yang akan ditimbulkannya

dan lagi lagi aku percaya,berdiri penuh energi untuk menyatukan elegi

membuat nada do bersatu dengan nada fa

membuat minor berdamai dengan mayor

untuk siapa lagi jika bukan untuk kamu? 5 kata penuh makna

bagai pisau bermata dua

oh aku lupa,juga untuk 4 kata yang lebih mendunia dari semesta. kamu.